PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kenakalan tawuran siswa di SMA N 1 Arso saat sekarang ini sudah menjadi masalah sosial, yang mana hal ini perlu perhatian serius baik dari pihak sekolah SMA N 1 Arso terutama bagi guru Pendidika Agama Islam dan orang tua murid itu sendiri. Kenakalan siswa pada SMA N I Arso terlihat sudah melanggar norma-norma agama, hal itu terjadi dikarenakan pengajaran yang dilakukan oleh guru PAI di SMA N I Arso kurang terfokus pada sikap dan akhlak tersebut kurang menyentuh sehingga berdampak pada kurangnya etika agama bagi siswa yang ada di SMA N I Arso. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan apabila tidak ditindaklanjuti maka kenakalan siswa dapat memberikan citra yang kurang baik bagi pihak sekolah serta dunia pendidikan dan merugikan siswa itu sendiri.
Kenakalan tawuran ternyata membuat resa masyarakat. Siswa SMA itu berumur 16 sampai 18 tahun yang menginjak masa remaja merupakan suatu masa transisi menuju dewasa dan merupakan suatu masa mencari identitas diri. Dalam masa tersebut tidak sedikit siswa mengalami kebimbangan dalam diri masing-masing siswa dalam menentukan sikap dan prilaku sehari-hari.Sehingga tidak sedikit pula siswa melakukan suatu perbuatan yang melanggar baik norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat termasuk melanggar agama dan norma hukum.
Kurangnya kompetensi kinerja seorang guru PAI di SMA N I Arso membawa pengaruh besar dalam membentuk kepribadian, tingka laku maupun Akhlak para para siswa dan siswi.
Kemampuan seorang guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas, tidak sebatas memberikan bahan-bahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat.
Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diharapkan. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.[1]
Sebagai pengajar, guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kegiatanbelajar, metode mengajar, dan evaluasi. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran.
Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru, maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. Dalam syariĆat Islam, meskipun tidak terpaparkan secara jelas, namun terdapat hadits yang menjelaskan bahwa segala sesuatu itu harus dilakukan oleh ahlinya (orang yang berkompeten dalam tugasnya tersebut).
Dengan komptensi yang dimiliki, selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar, guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran, kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar, dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas, tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya, atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi.
Kinerja guru atau biasa disebut perfomance guru merupakan hasilkerja atau unjuk kerja atas suatu aktifitas mengajar yang diberikan sesuai dengan petunjuk atau pedoman. Indikator kinerja guru dapat dilihat pada kemampuan guru dalam merencanakan pengajaran. Merencanakan KMB, menguasai bahan pelajaran, mengelolah kelas, menggunakan fasilitas pendidikan dan penilaian hasil belajar.[2]
Dampak dari kurangnya materi Pendidikan Agama Islam yang menyebabkan siswa SMA kurang dalam menjalankan nilai agama sehingga pertanyaan saya apakah model materi dan fasilitas pengajaran yang kurang atau masyarakat sudah kurang peduli lagi dengan Agama
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA N1 Arso?
2. Bagaimana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diterapkan di SMA N 1 Arso?
C. Tujuan Penelitian
Berpedoman pada perumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui materi yang di ajarkan guru PAI dalam pembentukan Ahklak di SMA N I Arso?
b. Untuk mengetahui kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA N I Arso?
D. Manfaat Penelitian
Secara rinci kegunaan penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. 1.Manfaat Praktis
(a) Memberikan gambaran bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan sistem manajemen kinerja guru Pendidikan Agama Islam yang dapat dipertanggungjawabkan.
(b) Memberikan bahan penyempurnaan kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan karir guru PAI yang sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah setempat dan lingkungan kerjanya dalam upaya meningkatkan kinerja guru PAI.
2.2. Manfaat Akademis
(a) Memperluas dan memperbanyak khazanah ilmiah keilmuan guru PAI khususnya dalam bidang manajemen dan administrasi guru yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kebijakan pengembangan sumberdaya manusia guru.
(b) Menjadikan pendorong bagi studi lebih lanjut untuk mengembangkan model peningkatan kinerja guru dalam cakupan yang lebih luas
E. Defenisis Operasional
Guna menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap apa yang penulis sajikan disini penulis menjelaskan maksud dari judul tersebut sebagai berikut:
Kompetensi
Menurut Finch dan Crunkilton dalam Mulyasa (2004: 38) bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal itu menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, ketrampilan sikap dan apresiasi yang harus dimiliki seorang guru pendidikan agama islam untuk dapat melaksanakan tugas - tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Sedangkan menurut Broke dan Stone (Uzer Usman, 2007:14) kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti.
Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat
seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, namun mempunyai arti yang berbeda. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Guru berceramah sedangkan siswa hanya sebagai pendengar sehingga interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pengajaran masih belum maksimal.
F. METODOLOGI PENELITIAN
A. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi
Saya melakukan observasi dengan cara mengamati linkungan sekolah secara menyeluruh, selain itu juga saya memperhatiakan tingkah laku para siswa siswi dalam lingkungan sekolah,sehingga saya dapat mengumpulkan data sesuai yang diinginkan. Observasi saya lakukan selama seminggu
2. Wawancara
Sebelum saya melakukan wawancara kepada guru PAi di SMA N I Arso pertama-tama yang saya lakukan adalah mendekati dan selanjutnya saya memperkenalkan nama setelah itu baru saya menyampaikan maksud dan tujuan saya datang kesekolah tempat dia mengajar, setelah saya sampaikan barula saya memulai wawancara.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam peneitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang ditunjang oleh data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan, dan penelitian lapangan.
Adapun penelitian kepustakaan adalah menelaah, mengkaji dan mempelajari berbagai literatur (referensi) yang erat kaitannya dengan masalah yang akan dibahas.
Penelitian lapangan, penulis terjun langsung ke lapangan atau dilakukan di sekolah dengan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, guna memperoleh data yang jelas dan representative
G. SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I pendahuluan yang menguraikan Latar Belakang, Rumusan Masalah, Ruang Lingkup dan Batasan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Defenisi Operasional, Metode Penelitian yang meliputi lokasi penelitian, jenis, data dan teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan sistematika pembahasan.
Bab II kajian Teori, membahas tentang pengertian kompetensi guru,
manajemen kinerja guru, serta macam-macam kompetensi guru.
Bab III Gambaran umum lokasi penelitian yang menguraikan Deskripsi singkat SMA Negeri 1 Arso, letak geografis, sarana dan prasarana, Kondisi Guru, kondisi staf tata usaha dan kondisi siswa.
Bab IV Pembahasan dan hasil penelitian tentang penyebab kenakalan tawuran yang terjadi serta metode dan materi yang di ajarkan seorang Guru Pendidika Agama Islam di SMA N I Arso yang memuat tentang pembahasan penelitian, hasil penelitian.
Bab V Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. KOMPETENSI GURU PAI
1. Pengertian Kompetensi Guru
Pendidikan merupakan sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Hal ini dapat terlihat dari tujuan nasional bangsa Indonesia yang salah satunya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang menempati posisi yang strategis dalam pembukaan UUD 1945. Dalam situasi pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, guru merupakan komponen yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ini disebabkan guru berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Dengan kata lain, guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkompeten. Oleh karena itu, diperlukanlah sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya.[3]
Pengertian kompetensi ini, jika digabungkan dengan sebuah profesi yaitu guru atau tenaga pengajar, maka kompetensi guru mengandung arti kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak atau kemampuan dan kewenangnan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Pengertian kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif.[4]
2. Urgensi Kompetensi Guru
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Dengan kompetensi tersebut, maka akan menjadikan guru profesional, baik secara akademis maupun non akademis.
Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. Tujuan, program pendidikan, system penyampaian, evaluasi, dan sebagainya, hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin[5]
Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa, kompetensi guru berperan penting. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal.[6]
3. Macam-macam Kompetensi Guru
Kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.[7]
a. Kompetensi Personal
Dalam kompetensi personal ini telah mencakup kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial yang merupakan modal dasar bagi guru dalam menjalankan tugas dan keguruannya secara profesional. Kompetensi personal guru menunjuk perlunya struktur kepribadian dewasa yang mantap, susila, dinamik (reflektif serta berupaya untuk maju), dan bertanggung jawab. Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi ini juga sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guru menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara dan bangsa pada umumnya.
Sedangkan kompetensi sosial dimaksudkan bahwa guru mampu memfungsikan dirinya sebagai makhluk sosial di masyarakat dan lingkungannya sehingga mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan wali peserta didik, serta masyarakat sekitar.
Menurut A.S Lardizabal, kompetensi personal-sosial adalah sebagai berikut:[8]
1. Guru menghayati serta mengamalkan nilai hidup (termasuk nilai moral dan
keimanan)
2. Guru hendaknya mampu bertindak jujur dan bertanggungjawab
3. Guru mampu berperan sebagai pemimpin, baik di lingkup sekolah maupun
luar sekolah
4. Guru bersikap bersahabat dan terampil berkomunikasi dengan siapapun demi
tujuan yang baik.
5. Guru mampu berperan serta aktif dalam pelestarian dan pengembangan
budaya masyarakatnya.
6. Dalam persahabatan dengan siapapun, guru hendaknya tidak kehilangan
prinsip serta nilai hidup yang diyakininya.
7. Bersedia ikut berperan serta dalam bebagai kegiatan sosial.
8. Guru adalah pribadi yang bermental sehat dan stabil
9. Guru tampil secara pantas dan rapi.
10. Guru mampu berbuat kreatif dengan penuh perhitungan
11. Guru hendaknya mampu bertindak tepat waktu dalam janji dan penyelesaian
tugas-tugasnya.
12. Guru hendaknya dapat menggunakan waktu luangnya secara bijaksana dan
produktif
b. Kompetensi Profesional
Dalam standar nasional pendidikan, kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan.
Terdapat sepuluh kemampuan dasar keguruan yang menjadi tolok ukur kinerjanya sebagai pendidik profesional, diantaranya adalah sebagai berikut:[9]
1. Guru dituntut menguasai bahan ajar. Penguasaan bahan ajar dari para guru sangatlah menentukan keberhasilan pengajarannya. Guru hendaknya menguasai bahan ajar wajib (pokok), bahan ajar pengayaan dan bahan ajar penunjang dengan baik untuk keperluan pengajarannya, mampu menjabarkan serta mengorganisasikan bahan ajar secara sistematis, relevan dengan tujuan instruksional khusus (TIK), selaras dengan perkembangan mental siswa, selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu serta tekhnologi (mutakhir) dan dengan memperhatikan kondisi serta fasilitas yang ada di sekolah dan atau yang ada di lingkungan sekolah.
2. Guru mampu mengolah program belajar mengajar. Guru diharapkan menguasai secara fungsional tentang pendekatan sistem pengajaran, asas pengajaran, prosedur-metode, strategi-teknik pengajaran, menguasai secara mendalam serta berstruktur bahan ajar, dan mampu merancang penggunaan fasilitas pengajaran.
3. Guru mampu mengelola kelas, usaha guru menciptakan situasi sosial kelasnya yang kondusif untuk belajar sebaik mungkin.
4. Guru mampu menggunakan media dan sumber pengajaran. Kemampuan guru dalam membuat, mengorganisasi, dan merawat serta menyimpan alat pengajaran dan atau media pengajaran adalah penting dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran
5. Guru menguasai landasan-landasan kependidikan. Guru yang menguasai dasar keilmuan dengan mantap akan dapat memberi jaminan bahwa siswanya belajar sesuatu yang bermakna dari guru yang bersangkutan.
6. Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar, guru mampu berperan sebagai motivator, inspirator, organisator, fasilitator, evaluator, membantu penyelenggaraan administrasi kelas serta sekolah, ikut serta dalam layanan B.K di sekolah. Dalam pengajaran guru dituntut cakap dalam aspek didaktismetodis agar siswa dapat belajar giat.
7. Guru mampu menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran. Keahlian guru dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar siswa mempunyai dampak yang luas, data penilaian yang akurat sangat membantu untuk menentukan arah perkembangan diri siswa, memandu usaha, optimalisasi dan integrasi perkembangan diri siswa. Yang pertama-tama perlu dipahami oleh guru secara fungsional adalah bahwa penilaian pengajaran merupakan bagian integral dari sistem pengajaran. Jadi kegiatan penilaian yang meliputi penyusunan alat ukur (tes), penyelenggaraan tes, koreksi jawaban siswa serta pemberian skor, pengelolaan skor, dan menggunakan norma tertentu, pengadministrasian proses serta hasil penilaian dan tindak lanjut penilaian hasil belajar berupa pengajaran remedial serta layanan bimbingan belajar dan seluruh tahapan penilaian tersebut perlu diselaraskan dengan kemampuan sistem pengajaran.
8. Guru mengenal fungsi serta program pelayanan BK. Mampu menjadi partisipan yang baik dalam pelayanan B.K di sekolah, membantu siswa untuk mengenali serta menerima diri serta potensinya membantu menentukan pilihan-pilihan yang tepat dalam hidup, membantu siswa berani menghadapi masalah hidup, dan lain-lain
9. Guru mengenal dan mampu ikut penyelenggaraan administrasi sekolah, guru dituntut cakap atau mampu bekerjasama secara terorganisasi dalam pengelolaan kelas.
10. Guru memahami prinsip-prinsip penelitian pendidikan dan mampu menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan pengajaran. Tuntutan kompetensi dibidang penelitian kependidikan ini merupakan tantangan kualitatif bagi guru untuk masa kini dan yang akan datang.
Untuk keberhasilan dalam mengemban peran sebagai guru, diperlukan adanya standar kompetensi. Berdasarkan UU Sisdiknas No. 14 tentang guru dan dosen pasal 10, menentukan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi padagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
a. Kompetensi Paedagogik
Yang dimaksud dengan kompetensi paedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi ini meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut:[10]
1. Pemahaman wawasan / landasan kependidikan
2. Pemahaman terhadap peserta didik
3. pengembangan kurikulum / silabus
4. Perancangan pembelajaran
5. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
6. Pemanfaatan tekhnologi pembelajaran
7. Evaliasi Hasil Belajar (EHB)
8. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya.
b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.26 Dalam standar nasional pendidikan, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi kepribadian ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara, dan bangsa pada umumnya.
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua / wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:
1. Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat
2. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua / wali peserta didik; dan Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar
d. Kompetensi Profesional
Yang dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi, pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan. Adapun ruang lingkup kompetensi profesional sebagai Berikut :[11]
1. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya
2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik
3. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya
4. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi
5. Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media dan sumber belajar yang relevan
6. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran
7. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik
8. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik
Dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) saat ini, dalam hal penilaian atau evaluasi, ditinjau dari sudut profesionalisme tugas kependidikan maka dalam melaksanakan kegiatan penilaian yang merupakan salah satu ciri yang melekat pada pendidik profesional. Seorang pendidik profesional selalu menginginkan umpan balik atas proses pembelajaran yang dilakukannya. Hal tersebut dilakukan karena salah satu indicator keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik. Dengan demikian, hasil penilaian dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran dan umpan balik bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilakukan. Adanya komponen-komponen yang menunjukkan kualitas mengevaluasi akan lebih memudahkan para guru untuk terus meningkatkan kualitas menilainya. Dengan demikian, berarti bahwa setiap guru memungkinkan untuk dapat memiliki kompetensi menilai secara baik dan menjadi guru yang bermutu.
1. Mempelajari fungsi penilaian
2. Mempelajari bermacam-macam teknik dan prosedur penilaian
3. Menyusun teknik dan prosedur penilaian
4. Mempelajari kriteria penilaian teknik dan proseur penialaian
5. Menggunakan teknik dan dan prosedur penilaian
6. mengolah dan menginterpretasikan hasil penilaian
7. menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan proses belajar mengajar
8. menilai teknik dan prosedur penilaian
9. menilai keefektifan program pengajaran
B. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
1. Pengertian Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah – langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan (Nana Sudjana, 2010 : 136 ). Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain ( 2010 : 1) pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran antara lain:
a. Mebuka pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.pada kegiatan ini guru harus memperhatikan dan memenuhi kebutuhan siswa serta menunjukan adanya kepedulian yang besar terhadap keberadaan siswa. Dalam membuka pelajaran guru biasanya membuka dengan salam dan presensi siswa, dan menanyakan tentang materi sebelumnya ,Tujuan membuka pelajaran adalah :
1) Menimbulkan perhatian dan memotifasi siswa
2) Menginformasikan cakupan materi yang akan dipelajari dan batasan – batasan tugas yang akan dikerjakan siswa
3) Memberikan gambaran mengenai metode atau pendekatan – pendekatan yang akan digunakan maupun kegiatan pembelajaran yang akn dilakukan siswa.
4) Melakukan apersepsi, yakni mengaitkan materi yangtelah dipelajari dengan materi yang akan dipelajari.
5) Mengaitkan peristiwa aktual dengan materi baru
b. Penyampaian Materi Pembelajaran
Penyampaian materi pembelajaran merupakan inti dari suatu proses pelaksanaan pembelajaran. Dalam penyampaian materi guru menyampaikan materi berurutan dari materi yang paling mudah terlebih dahulu,untuk memaksimalakan penerimaan siswa terhadap materi yang disampaikan guru maka guru menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan materi dan menggunakan media sebagai alat bantu penyampaian materi pembelajaran. Tujuan penyampaian materi pembelajaran adalah :
1) Membantu siswa memahami dengan jelas semua permasalahan dalam kegiatan pembelajaran.
2) Membantu siswa untuk memahami suatu konsep atau dalil.
3) Melibatkan siswa untuk berpikir
4) Memahami tingkat pemahaman siswa dalam menerima pembelajaran.
c. Menutup Pembelajaran
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengahiri kegiatan inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini guru melakukan evaluasi tterhadap materi yang telah disampaikan. Tujuan kegiatan menutup pelajaran adalah :
1) Mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran.
2) Mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
3) Membuat rantai kompetensi antara materi sekarang dengan materi yang akan datang.
Bardasarkan beberapa pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran adalah berlangsungnya proses interaksi siswa dengan guru pada suatu lingkungan belajar[12]
2. Komponen Pelaksanaan Pembelajaran
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses sudah tentu harus dapat mengembangkan dan menjawab beberapa persoalan yang mendasar. Keempat persoalan ( tujuan, bahan, metode dan alat, serta penilaian ) menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam proses belajar – mengajar. Secara skematis keempat komponen tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :
![]() |
| ||||
| ||||
![]() | |||
Diagram 1 : Interelasi komponen pengajaran
( Nana Sudjana, 2010 : 30 )
a) Tujuan
Tujuan dalam proses belajar – mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya adalah rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa seteleh mereka menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Isi tujuan pengajaran pada intinya adalah hasil belajar yang diharapkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka ada tujuan yang dibuat oleh guru, untuk mencapai tujuan pembelajaran maka guru harus memperhatikan beberapa hal antara lain ( Nana Sudjana, 2010 : 63 ) :
1) Luas dan dalamnya bahan yang akan di ajarkan.
2) Waktu yang tersedia
3) Sarana belajar seperti buku pelajaran, alat bantu dan lain – lain
4) Tingkat kesulitan bahan dan tingkat permasalahan siswa
Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam merumuskan tujuan pembelajaran antara lain :
1) Rumusan tujuan harus berpusat pada perubahan tingkah laku siswa
2) Rumusan tujuan pembelajaran harus berisikan tingkah laku oprasional, yang artinya dapat diukur saat itu juga
3) Rumusan tujuan berisikan tentang makana dari pokok bahasan yang akan diajarkan saat itu
b) Bahan
Tujuan yang jelas dan oprasional dapat ditetapkan bahan pelajaran yang harus menjadi isi kegiatan belajar – mengajar. Bahan pelajaran inilah yang diharapkan dapat mewarnai tujuan, mendukung tercapai tujuan atau tingkah laku yang diharapkan untuk dimiliki siswa.
Menurut nana sudjana ( 2010 : 69 ), adabebrapa hal yang perlu diperhatikan dalammenetapkan bahan pembelajaran antara lain :
(1) Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
(2) Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar terbatas pada konsep saja sehingga tidak perlu ditulis secara rinci
(3) Menetapkan bahan pembelajaran harus sesuai dengan urutan tujuan.
(4) Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan antara bahan yang satu dengan bahan yang lain.
(5) Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkrit menuju yang abstrak.
(6) Sifat bahan ada yang faktual dan ada yang konseptual, Bahan yang faktual sifatnya konkret dan mudah diingat, sedangkan bahan yang konseptual berisikan konsep – konsep abstrak dan memerlukan pemahaman.[13]
c) Metode
Metode dan alat yang digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan dan bahan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode dan alat berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi pelajaran terhadap tujuan yang inhgin dicapai. Metode dan alat yang digunakanharus betul – betul efektif dan efisien.
(1) Metode ceramah
Langkah – langkah dalam penggunnaan metode caramah menurut Nana sudjana ( 2010 : 77 ) :
a) Tahap persiapan, artinya guru menciptakan kondisi yang baik sebelum mengajar dimulai.
b) Tahap penyajian, artinya tiap guru menyampaikan bahan ceramh.
c) Tahap asosiasi, artinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan membendingkan bahan ceramah yang telah diterimanya.
d) Tahap generalisasi atau kesimpulan.pada tahap ini kelas menyimpulkan hasi ceramah, umumnya siswa mencatat bahan yang telah diceramahkan.
e) Tahap evaluasi. Tahap terahir ini diadakan penilaian terhadap pemahaman siswa mengenai bahan yang telah diberikan guru.
(2) Metode demonstrasi Petunjuk
penggunaan metode demonstrasi menurut Nana sudjana ( 2010 : 84 ) adalah sebagi berikut :
a) Persiapan / perencamaan, tetapkan tujuan demonstrasi, tetapkan langkah – langkah pokok demonstrasi dan siapkan alat – alat yang diperlukan.
b) Pelaksanaan demonstrasi, usahakan demonstrasi dapat diamati oleh seluruh siswa, tumbuhkan sikap kritis siswa, beri kesempatan kepada siswa untuk mencoba sehingga siswa yakin akan kebenaran suatu proses, buat penilaian dari kegiatan siswa.
c) Tindak lanjut demonstrasi, setelah demonstrasi selesai berikan siswa tugas baik secara tertulismaupun lisan
(3) Metode latihan
Menurut Nana sudjana ( 2010 : 86 ) prinsip dan petunjuk penggunaan metode latihan adalah :
(a) Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diberi latihan tertentu.
(b) Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersifat diagnosis.
(c) Latihan tidak perlu lama asal serimg dilakukan.
(d) Harus disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa.
(e) Proses latihan hendaknya mendahulukan hal – hal yang esensial dan berguna.
(4) Metode pemberian tugas
Langkah – langkah menggunakan metode pemberian tigas menurut Nana sudjana ( 2010 : 81 ) adalah sebagai berikut :
(a) Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangakan:
· Tujuan yang akan dicapai
· Jenis tugas jelas dan tepat.
· Sesuwai dengan kemampuan siswa.
· Ada petunjuk / sumber yang dapat membantu pekerjan siswa
· Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
(b) Langkah pelaksanaan tugas
· Diberikan bimbingan dan pengawasan oleh guru.
· Diberikan dorngan sehingga siswa mau bekerja.
· Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri.
· Dianjurkan siswa mencatat hasil – hasil yang diperoleh dengan baik
(c) Fase mempertanggung jawabkan tugas
· Laporan siswa baik lisan / tulisan dari apa yang sudah dikerjakan.
· Ada tanya jawab diskusi kelas
· Penilaian hasil belajar siswa baik secara tes maupun non tes
(d) Alat
Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting untuk
membantu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif. Sebab
dengan adanya alat peraga, bahan yang akan disapaikan kepada siswa
akan lebih mudah diterima dan dipahami siswa.
Prinsip – prinsip menggunakan alat peraga menurut Nana sudjana ( 2010 : 104 ) adalah :
1) Menentukan jenis alat peraga dengan tepat.
2) Menetapkan atau memperhitunghkan subjek dengan tepat.
3) Menyajikan alat peraga dengan tepat.
4) Menempatkan atau memperliahatkan alat peraga pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
“ seorang guru harus pandai dalam menggunakan alat peraga dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran berlangsung epektif dan lancar”.
(e) Penilaian
Untuk menetapkan apakah tujuan belajar telah tercapai atau tidak maka penilaianlah yang harus memainkan peran dan fungsinya. Dengan perkataan lain bahwa penilaian berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya fungsi penilaian pada dasarnya untuk mengukur tujuan. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam penilaian menurut nana sudjana ( 2010 : 117 ) antara lain :
1) Penilaian harus dilakukan secara berlanjut.
2) Dalam proses mengajar penilaian dapat dilakukan dengan tiga tahap yaitu Pre-test yaitu tes kepada siswa sebelum pelajaran dimulai, Mid-test yaitu tes yang diberikan pada pertengahan pelaksanaan pembelajaran dan Post-test yaitu tes yang diberikan setelah proses pembelajaran berlangsung.
3) Penilaian dilakukan tidak hanya didalam kelas melainkan juga diluar kelas terutama pada tingkah laku.
4) Untuk memperoleh gambaran objektif penilaian sebaiknya dilakukan penilaian tes dan non tes.
Gagne berpendapat bahwa belajar dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil, dari segi proses menurut gagne ada delapan tipe perbuatan belajar sebagai berikut :
a. Belajar signal. Bentuk belajar ini merupakan yang paling sederhana yaitu memberikan reaksi terhadap perangsang.
b. Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan., yaitu membarikan reaksi yang berulang – ulang manakala terjadi reinforcement atau penguatan.
c. Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubung –
hubungkan gejala / faktor / yang satu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan yang berarti.
d. Belajar asosiasi variabel, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata – kata, bahasa, terhadap perangsang yang diterimanya.
e. Belajar membedakan hal yang majemuk, yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap perangsang yang hampir sama sifatnya.
f. Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasifikasi tertentu.
g. Belajar kaidah atau belajar prinsip, yaitu menghubung – bhubungkan beberapa konsep.
h. Bebelajar memecahkan masalah, yaitu menghubungkan beberapa kaidah atau prinsip untuk memecahkan persoalan.
Sedangkan belajar yang berkaitan dengan hasil, Gagne mengemukakan ada lima jenis atau lima tipe, antara lain :
a) Belajar kemahiran intelektual ( cognitif )
Dalam tipe ini termasuk belajar belajar konsep dan belajar kaidah.
Belajar diskriminasi adalah kesanggupan membedakan beberapa objek berdasarkan ciri –ciri tertantu. Untuk itu dibutuhkan pengamatan yang cermat dari ciri – ciri objek tersebut seperti bentuknya, ukuranya, warna dan lain – lain. Kemampuan membedakan objek dipengaruhi oleh kematangan, pertumbuhan dan pendidikan.
Belajar konsep adalah kesanggupan menempatkan objek yang
mempunyai ciri yang sama menjadi stu kelompok ( klasifikasi ) tertentu. Konsep diperoleh dari interaksi dengan lingkungan dan banyak terjadi dalam realitas kehidupan. Konsep dinyatakan daalam bentuk simbol bahasa. Contoh keluarga, masyarakat pendidikan dan lain – lain.
Belajar kaidah pada hakekatnya menghasilkan beberapa konsep. Misal konsep keluarga terdiri dari ibu, ayah dan anak. Belajar kaidah melaui simbol bahasa baik lisan maupun tulisan.
b) Belajar informasi verbal
Pada umumnya belajar berlangsung melalui informasi verbal, apalagi belajar di sekolah, seperti membaca, mengarang, bercerita, mendengarkan uraian guru, kesanggupan menyatakan pendapat dalam bahasa tulisan / lisan, berkomunikasi, kesanggupan memberi arti dari kata / kalimat dan lain-lain
c) Belajar mengatur kagiatan intelektual
Tipe belajar ini menekankan pada aplikasi kognitif pada pemecahan persoalan , ada dua aspek penting dalam tipe belajar ini, yaitu prinsip pemecahan masalah dan langkah berfikir dalam pemecahan masalah ( Problem solving ). Prinsip pemecahan masalah merupakan landasan bagi terealisasinya langkah berfikir. Pemecahan masalah memerlukan keahlian intelektual seperti belajar diskriminasi, belajar konsep dan belajar kaidah.kemahiran intelektual tersebut pada akhirnya akan membentuk suatu kemampuan intelektual yang lebih tinggi, yaitu langkah – langkah berpikir dalam penyelesaian masalah. Dengan kata lain kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek kognitif tingkat tinggi.
d) Belajar sikap
Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu., apakah berarti atau tidak bagi dirinya itu sebabnya sikap berhubungan dengan pengetahuan, dari perasaan seseorang terhadap objek. Sikap juga dapat dipandang sebagai kecenderungan seseorang untuk berperilaku ( predisposisi ). Hasil belajar sikap nampak dalam bentuk mkemauan, minat, perhatian, perubahan perasaan, dan lain – lain. Sikap dapat dipelajari dan diubah melalui proses belajar.
3. Aspek Pembelajaran
Menurut Syaiful Bahri dan Azwan Zain ( 2010 : 41 ) komponen pembelajaran meliputi : tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi.
a) Tujuan
Tujuan adalah suatu cita – cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.
b) Bahan pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi / pokok bahasan yang akan
disampaiakan dalam proses balajar mengajar.
Kagiatan belajar mengajar
c) Kegiatan belajar – mengajar adalah inti dari kegiatan pendidikan.
Segala sesuatu yang telah diprogram akan dilaksanakan dalam
kegiatan belajar mengajar.
d) Metode
Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
e) Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
f) Sumber palajaran
Sumber bahan dalam belajar adalah sesuatu yang dapat digunakan
sebagai tempat dimana bahan pengajaran didapat atau asal – usul
untuk belajar seseorang.
g) Evaluasi
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menilai
sesuatu
4. Kurikulum
a. Pengertian Kurikulum
Menurut PP 19 tahun 2005 bab 1 pasa 13, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu.menurut kamus besar bahasa Indonesia ( 2005 : 617 )kurikulum adalah sebagai perangkat pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan dan sebagai perangkat mata kuliah mengenai tujuan keahlian khusus.
Cakupan kurikulum yang berisikan rencana bidang studi,yang terdiri atas beberapa macam mata pelajaran yang disajikan secara berkaitan antara satu dengan yang lain. Inti kurikulum, kurikulum yang perangsangan belajarnya disusun dalam bentuk masalah inti tertentu.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.
b. KTSP
Pada SMAN 1 Arso kurikulum yang digunakan yaitu KTSP KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah / daerah, karakteristik sekolah / daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik.sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan KTSP dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervisi dinas kabupaten / kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan di SD, SLTP, SLTA dan SMK serta departemen yang menangani urusan pemerintaahan dibidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.
Secara umum tujuan diterapkanya KTSP adalah untuk mendirikan dan memberdayakan suatu pendidikan melalui pemberian kewenangan ( otonomi ) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipasi dalam pengembangn kurikulum.
Menurut E. Mulyasa (2010 : 22 ) Secara khusus tujuan diterapkanya KTSP adalah untuk :
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memperdayakan sumberdaya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan kompetisi yangsehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai
BAB III
GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
A. Deskripsi Singkat SMA Negeri 1 Arso
1. Sejara Singkat Sekolah
SMAN 1 Arso berdiri pada tahun 1988 dan merupakan salah satu sekolah tertua di Kabupaten Keerom, peningkatan mutu dan out put yang berkualitas merupakan kebutuhan dan tuntutan bagi lembaga pendidikan. Seiring dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. SMAN 1 Arso sebagai salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Keerom, diharapkan mampu menciptakan siswa / siswi yang mampu bersaing dan memiliki SDM yang baik.
Pada awalnya kegiatan penerimaan siswa baru sangat sulit dilakukan hal ini di sebabkan karena kurangnya siswa yang mendaftar selain itu juga bangunan gedung yang hanya berjumlah sedikit serta tenaga pengajar juga masih sangat minim.
Namun seiring waktu SMAN 1 Arso mulai diminati oleh siswa / siswi yang baru lulus dari SMP, selain itu tenaga pengajar juga sudah mulai bertambah. Karena SMAN 1 Arso hanya memiliki jumlah bangunan yang sedikit sehingga pihak sekolah mulai menambah jumlah bangunan yang ada hal ini bertujuan untuk memperlancar proses KBM sehingga sekarang SMAN 1 Arso memiliki jumlah siwa / siswi yang sangat banyak hal ini tak luput dari peran pihak sekolah serta masyarakat yang turut membantu.
Berdasarkan deskripsi singkat tentang sejarah berdirinya SMAN 1 Arso, tentu merupakan gambaran upaya terbaik dan kerja keras dari para pendiri sekolah yang sangat peduli dengan dunia pendidikan di Kabupaten Keerom khususnya pada saat itu Arso. Sehingga sekolah ini pada saat sekarang menjadi salah satu sekolah terbaik di Kabupaten Keerom.
2. Visi dan Misi
Visi
SMA Negeri 88 Jakarta lembaga pendidikan, pembelajaran dan pelatihan siswa untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas, berkualitas dan memiliki kecakapan hidup
Indikator :
1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Berbudi pekerti luhur dan berkepribadian tinggi
3. Mandiri dan tangguh dalam menghadapi tantangan
4. Setia kawan, tebal rasa kebangsaan dan cinta tanah air
5. Cerdas dan terampil sesuai kompetensi
6. Berdisiplin untuk mencapai prestasi
Misi
Membangun nurani, membuka cakrawala berpikir, dan memberdayakan potensi diri .
Indikator :
1. Kegiatan keagamaan yang komprehensif
2. Perilaku sosial yang kondusif
3. Persaingan belajar yang kompetitif
4. Perikehidupan, berbangsa dan bernegara yang normative
5. Kekarsaan dan kekaryaan yang inovatif
6. Perekayasaan yang tertib dan positif.
3. Letak Geografis Sekolah
SMAN 1 Arso terletak dilingkungan strategis yang mudah di jangkau oleh masyarakat dari semua desa yang ada di Kabupaten keerom karena berada pada daerah yang strategis dan mudah di jangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor ataupun dengan bersepeda, karena SMAN 1 Arso terletak pada kampung Swakarsa serta dekat dengan lokasi terminal Kabupaten Keerom yang sebentar lagi akan di pungsikan sehingga hal ini semakin mempermudahkan siswa / siswi menjangkau sekolah ini.
Sekolah ini memiliki batas – batas wilaya sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan arso 10
2. Sebelah timur berbatasan dengan jalan trans irian
3. Sebelah utara berbatasan dengan arso 6
4. Sebelah selatan berbatasan dengan arso 2
B. Sarana Dan Prasarana
SMAN 1 Arso memiliki sejumlah sarana dan prasarana untuk menunjang kegitan belajar mengajar yang cukup memadai, karena pihak sekolah berupaya meningkatkan mutu pembelajaran pada sekolah ini sehingga sarana dan prasarana penunjang selalu di prioritaskan untuk meningkatkan SDM siswa / siswi di sekolah ini.
Untuk lebih jelasnya berikut data sarana dan prasarana SMAN 1 Arso :
1. Bangunan Kelas
Hingga bulan januari 2013, jumlah ruang belajar di SMAN 1 Arso sebanyak 21 ruang kelas yakni kelas 1 sebanyak 7 ruang kelas kelas 2 sebanyak 5 ruangan yang terdiri dari 3 ruang IPS dan 2 ruang IPA, dan kelas 3 sebanyak 8 ruangan yang terdiri dari 3 ruang IPS dan 5 uang IPA
2. Laboratorium
a. Laboratorium kimia kondisi baik
b. Laboratorium fisika kondisi baik
c. Laboratorium biologi kondisi baik
d. Laboratorium bahasa kondisi kurang baik
e. Laboratorium komputer multi media kondisi baik
3. Fasilitas lain yang mendukung
a. Ruang pusat sumber belajar kondisi baik
b. Ruang perpustakaan kondisi baik
c. Ruang bimbingan konseling kondisi baik
d. 1 ruang kepala sekolah kondisi baik
e. 1 ruang wakil kepala sekolah kondisi baik
f. 1 ruang guru kondisi baik
g. 2 ruang staf tata usaha kondisi baik
h. 1 ruang koperasi kondisi baik
i. Musholla kondisi baik
j. 2 WC guru dan 4 WC siswa , dan 2 lapangan olaraga.
k. 2 lapangan olaraga
C. Data Guru dan Karyawan
Untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar, perlu didukung guru yang memadai sesuai dengan kebutuhan sekolah. Adapun jumlah guru yang terdapat di SMAN 1 Arso berjumlah 44 orang . Rincian lebih lanjut tentang data guru dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2.1
Data Guru SMAN 1 Arso
No | Nama | Jenis kelamin | Pendidikan | Jabatan |
1 | Drs. Viktor Maulete | L | S3 | Kepala Sekolah |
2 | Hansyah,S.Pd | L | S1 | Sejarah |
3 | Elisabeth S. sippan,S.Sos,MM | P | S2 | Sosiologi |
4 | Barselina Agustina Danya,S.Sos | P | S1 | Sosiologi/Mulok |
5 | Drs. Maximus Jelai | L | S3 | Sosiologi/pkn |
6 | Nelli Yaru,S.Sos | P | S1 | Sosiologi/keterampilan |
7 | Dra.Ani Supriyatini,M.MPd | P | S2 | Matematika |
8 | Eli Nuraini | P | S1 | Matematika |
9 | Muh. Qumaruddin, S.Pd | L | S1 | Matematika |
10 | Sugihartini,S.Pd | P | S1 | Matematika/mulok |
11 | Suandi,M.Si | L | S2 | Matematika |
12 | Sudarsono,S.Pd | L | S1 | Bhs.Inggris |
13 | Dra. Surti hutapea | P | S2 | Bhs.Inggris |
14 | Kastutik,S.Pd | P | S1 | Bhs. Inggris |
15 | Dra.Rivani Maleke,M.MPd | P | S2 | Ekonomi |
16 | Wa Impiami,S.E | P | S1 | Ekonomi/keterampilan |
17 | Siti mutmaina,S.Pd | P | S1 | Kimia |
18 | Warsak,S.Pd | L | S1 | Kimia |
19 | Eka Irmawati,S.Pd | P | S1 | Kimia/ Seni Budaya |
20 | Dra.Elisabet Rombe | P | S1 | Pkn |
21 | Anton A. lokobal,S.Ag | L | S1 | Agama Katolik |
22 | Bernadeta Marieta,S.Fil | P | S1 | Agama Katolik |
23 | Arkilaus Wetipo | L | S1 | Agama Protestan |
24 | Yan Willem Patai,A.Md | L | D3 | Agama Protestan |
25 | Fransina Resiaman,S.Th | L | S1 | Agama Protestan |
26 | Siti Rokhayati,S.Ag,MMPd | P | S2 | Agama Islam |
27 | Jamaluddin, S.Pdi | L | S1 | Agama Islam |
28 | Rohmad, S.Pd,MMPd | L | S2 | Bhs. Indonesia |
29 | Rosfine W.N.Patty,S.Pd,MMPd | P | S2 | Bhs. Indonesia |
30 | Titik Nurhayati,S.Pd | P | S1 | Bhs. Indonesia |
31 | Halim,S.Pd | L | S1 | Penjaskes |
32 | Torang P.Sidabutar,S.Pd | L | S1 | Penjaskes |
33 | Vincentia Retno A,S.Pd | p | S1 | Fisika |
34 | Jumiati,S.Pd,MMPd | P | S2 | Fisika |
35 | Drs. Ery Dianto | L | S1 | BK |
36 | Rima Eka pratiwi | P | S1 | BK |
37 | Drs, Saban | L | S1 | Biologi/mulok |
38 | Bintang Butar-Butar,S.Pd | P | S1 | Biologi |
39 | Marlina Abidondifu,S.Pd | P | S1 | Biologi/mulok |
40 | Jumiati, S.Pd, MMPd | P | S2 | Geografi |
41 | Muh. Syaifulloh,A.Md.T | L | D3 | TIK |
42 | Monika Nainggolan,S.kom | P | S1 | TIK |
43 | Ketut Karuna,S.Pd | P | S1 | Agama Hindu/keterampilan |
44 | Yosafat M Kumandel,S.Sn | L | S1 | Seni Budaya |
( sumber data : Dokumen SMA Negeri 1 Arso Tahun 2012/2013 )
Proses pembelajaran mulai tahun 2002/2003 SMA Negeri 1 Arso menggunakan kurikulum KTSP untuk mendukung program tersebut, kepalah sekolah membagi tugas kepada beberapa guru sebagai wakil kepala sekolah dan sebagai wali kelas untuk tahun pelajaran 2012/2013 dapat dilihat pada table sebagai berikut :
Tabel 2.2
Data Pembagian Tugas Guru Wali Kelas
No | Nama | Kelas | Keterangan |
1 | Hansyah,S.Pd | XI IPA 3 | |
2 | Barselina Agustina Danya,S.Sos | X 6 | |
3 | Dra.Ani Supriyatini,M.MPd | XII IPA 3 | |
4 | Eli Nuraini | X 4 | |
5 | Muh. Qumaruddin, S.Pd | XI IPA 2 | |
6 | Sudarsono,S.Pd | XI IPS 1 | |
7 | Dra. Surti hutapea | XII IPS 2 | |
8 | Kastutik,S.Pd | X 3 | |
9 | Wa Impiami,S.E | XI IPS 2 | |
10 | Siti mutmaina,S.Pd | XII IPA 4 | |
11 | Warsak,S.Pd | X 5 | |
12 | Arkilaus Wetipo | XI IPA 1 | |
13 | Jamaluddin, S.Pdi | XII IPS 3 | |
14 | Rohmad, S.Pd,MMPd | XII IPS 2 | |
15 | Rosfine W.N.Patty,S.Pd,MMPd | XII A2/koord | |
16 | Vincentia Retno A,S.Pd | XIIA5/koord | |
17 | Drs, Saban | XI IPA 4 | |
18 | Marlina Abidondifu,S.Pd | X1 | |
19 | Jumiati ,S.Pd,MMPd | X7 | |
20 | Ketut Karuna S.Pd | X2/koord |
( sumber data : Dokumen SMA Negeri 1 Arso Tahun 2012/2013 )
D. Data Siswa
Siswa – Siswi SMA Negeri 1 Arso terbagi menjadi 3 tingkatan yang terbagi menjadi 3 jurusan untuk kelas XI dan XII, yaitu jurusan Bahasa, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial, sedangkan untuk kelas X masih program umum. Jumlah pembagiannya sebagai berikut :
1. Kelas X terdiri dari X-1 – X-7 = 7 kelas
2. Kelas XI IPA1 - XI IPA2, XI IPA3- XI IPA4, XI IPS1 – XI IPS2 = 6 kelas
3. Kelas XII IPA 1, XII IPA2 – XII IPA3, XII IPA4 – XII IPA5, XII IPS1, XII IPS2, XII IPS 3, = 8kelas
Data jumlah siswa per desember 2013 adalah 597 Siswa dengan perincian seperti pada table berikut :
Tabel 2.4
Data Jumlah Siswa SMA N 1 Arso
No | Kelas | Laki-laki | Perempuan | Jumlah |
1 | X 1 | 13 | 17 | 30 |
2 | X2 | 15 | 19 | 34 |
3 | X3 | 17 | 12 | 29 |
4 | X4 | 16 | 16 | 32 |
5 | X5 | 9 | 21 | 30 |
6 | X6 | 14 | 17 | 31 |
7 | X7 | 13 | 16 | 29 |
8 | XI IPA 1 | 15 | 13 | 28 |
9 | XI IPA 2 | 6 | 24 | 30 |
10 | XI IPA 3 | 12 | 19 | 31 |
11 | XI IPA 4 | 14 | 18 | 32 |
12 | XI IPS 1 | 14 | 12 | 26 |
13 | XI IPS 2 | 17 | 9 | 26 |
14 | XII IPA 1 | 13 | 14 | 27 |
15 | XII IPA 2 | 11 | 20 | 31 |
16 | XII IPA 3 | 8 | 19 | 27 |
17 | XII IPA 4 | 7 | 19 | 26 |
18 | XII IPA 5 | 8 | 11 | 29 |
19 | XII IPS 1 | 17 | 9 | 26 |
20 | XII IPS 2 | 14 | 12 | 26 |
21 | XII IPS 3 | 19 | 8 | 27 |
JUMLAH | 272 | 325 | 597 | |
( sumber data : Dokumen SMA Negeri 1 Arso Tahun 2012/2013 )
Kurikulum dan Sistem Belajar Mengajar
Sejak Tahun pembelajaran 2006-2007 di SMAN 1 Arso menerapkankurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) / Kurikilum SMAN 1 Arso yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik .
Struktur kurikulum SMAN 1 Arso meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.
Pengorganisasian kelas-kelas pada SMAN 1 Ar dibagi pada dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta didik, dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas program
IPA dan Program IPS.
Untuk jam pembelajaran sendiri, setiap mata pelajaran dialokasikan waktu 1 jam pembelajaran 40-45 menit, dengan jumlah pertemuan sebanyak 42 jam perminggu, sehingga minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester)
adalah 36-38 minggu.
Adapun mengenai sistem belajar mengajar yang diterapkan adalah system klasikal, artinya dalam penyampaian pelajaran sebagian besar dilakukan di dalam kelas dengan metode pembelajaran yang bervariasi.
YANG MAU LEBIH LENGKAP TINGGAL CONTAK AJHA
DI NO 085 230 575 123
BIAYA PENGETIKAN 500RB
SEBAGAI BUKTI PROPOSAL AKAN SAYA KIRIM KE ALAMAT EMAIL PEMESAN DAN BILA BIAYA PENGETIKAN SUDAH DI BAYAR MAKA SAYA AKAN MENGIRIMKAN FILE LENGKAPNYA
MAKASIH SEBELUMNYA.



Posting Komentar